Petani Aceh Utara Dibayar Rp 10.000 Per Meter Bersihkan Lumpur Sawah Petani di Aceh Utara kembali turun ke sawah, bukan langsung untuk menanam, melainkan membersihkan lumpur tebal bekas banjir yang menutup saluran irigasi dan area persawahan. Di sejumlah desa di Kecamatan Muara Batu, petani lokal dilibatkan dalam pengerjaan saluran distribusi dengan upah Rp 10.000 per meter, sementara saluran utama dibersihkan menggunakan alat berat. Pekerjaan ini menjadi bagian dari pemulihan lahan pertanian setelah banjir besar pada 26 November 2025 merusak ribuan hektare sawah di Aceh Utara.
Sawah Aceh Utara Mulai Dibersihkan Setelah Lama Tertutup Lumpur
Pembersihan sawah di Kecamatan Muara Batu menjadi perhatian warga karena lahan pertanian di wilayah itu merupakan tumpuan ekonomi banyak keluarga. Setelah berbulan bulan tidak dapat digarap, petani kini mulai melihat harapan ketika saluran irigasi dan area persawahan dibuka kembali dari timbunan lumpur.
Ratusan hektare area persawahan di Muara Batu mulai dibersihkan dari endapan lumpur sisa banjir. Pembersihan dilakukan di saluran induk irigasi Desa Kuala Dua dengan bantuan excavator pada Minggu, 10 Mei 2026. Program ini dibiayai Kementerian Pertanian RI, bekerja sama dengan TNI AD, kelompok tani, dan Universitas Malikussaleh Aceh Utara.
Delapan Desa Masuk Tahap Awal Pengerjaan
Pembersihan tahap awal menyasar delapan desa di Kecamatan Muara Batu, yakni Paloh Awe, Pintu Makmur, Panigah, Kuala Dua, Paloh Raya, Mane Tunong, Ulee Madon, dan Kambam. Total luas yang masuk pengerjaan pada tahap ini mencapai 401 hektare.
Bagi petani, angka tersebut bukan sekadar catatan administratif. Di balik ratusan hektare itu ada lahan keluarga, sumber beras, biaya sekolah anak, dan roda ekonomi kecil di gampong. Ketika sawah tidak dapat digarap hampir setengah tahun, banyak petani kehilangan pemasukan utama. Karena itu, kedatangan alat berat dan pelibatan warga dalam pembersihan saluran menjadi kabar yang cukup melegakan.
Ketua Forum Keuchik Muara Batu, Syukni, menyebut warga mulai lega karena area persawahan telah dibersihkan. Ia menilai banyak keluarga bergantung pada hasil pertanian, sehingga berhentinya aktivitas sawah membuat keuangan rumah tangga terganggu. Pengerjaan disebut sudah mencapai sekitar 50 persen dan ditargetkan selesai pada pertengahan Juni.
Upah Rp 10.000 Per Meter Jadi Ruang Napas Bagi Petani
Keterlibatan petani lokal dalam pembersihan lumpur memperlihatkan bahwa pemulihan tidak hanya bergantung pada alat berat. Untuk saluran yang lebih kecil dan jalur distribusi air menuju sawah, tenaga warga tetap dibutuhkan karena mereka lebih memahami letak lahan, aliran air, dan jalur garapan di desa masing masing.
Anggota Kelompok Tani Desa Paloh Awe, Khalidin, mengatakan saluran utama dibersihkan dengan alat berat, sedangkan saluran distribusi dikerjakan petani lokal dengan upah Rp 10.000 per meter. Ia menilai keterlibatan petani dalam program itu cukup membantu karena mereka bisa memperoleh pemasukan sambil mempercepat persiapan sawah agar kembali dapat ditanami.
Pekerjaan Berat di Tengah Lumpur Tebal
Membersihkan lumpur sawah bukan pekerjaan ringan. Lumpur bekas banjir biasanya bercampur dengan ranting, kayu kecil, sampah, pasir, dan material lain yang terbawa arus. Pada sebagian saluran, endapan bisa menutup jalur air sehingga sawah tidak mendapat pasokan yang cukup untuk masa tanam.
Petani harus bekerja di area basah, licin, dan berat. Mereka membuka saluran secara bertahap agar air dapat mengalir kembali. Upah Rp 10.000 per meter menjadi insentif untuk pekerjaan yang melelahkan, meski bagi banyak petani nilai terpentingnya adalah kesempatan memulihkan sawah sendiri. Mereka tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi ikut menggerakkan pekerjaan di lapangan.
Kondisi ini juga memperlihatkan pola pemulihan berbasis warga. Ketika petani dilibatkan, pengerjaan menjadi lebih dekat dengan kebutuhan lapangan. Mereka tahu bagian mana yang harus dibuka lebih dulu, saluran mana yang tersumbat paling parah, dan petak sawah mana yang paling membutuhkan aliran air.
Banjir Besar Membuat Sawah Tidak Bisa Digarap Berbulan Bulan
Banjir hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025 meninggalkan kerusakan besar di Aceh Utara. Air tidak hanya menggenangi rumah warga, tetapi juga merendam sawah, tambak, irigasi, jalan, dan berbagai fasilitas umum. Setelah air surut, persoalan baru muncul karena lumpur tebal tertinggal di lahan pertanian.
Menurut laporan RRI berdasarkan data BPBD Aceh Utara per 5 Desember 2025, banjir yang berlangsung sejak 22 November 2025 membuat 101.562 kepala keluarga atau 338.640 jiwa terendam. Jumlah pengungsi tercatat 87.933 kepala keluarga atau 308.703 jiwa. Data yang sama juga mencatat 12.782 hektare sawah terendam dan 10.653 hektare tambak ikut terendam.
Kerusakan Pertanian Meluas di Banyak Kecamatan
Kerusakan sawah di Aceh Utara tidak terbatas pada satu kecamatan. Kementerian Pertanian mulai merehabilitasi 1.093 hektare sawah masyarakat terdampak banjir bandang dan tanah longsor. Tahap pertama intervensi dilakukan secara bertahap di Kecamatan Sawang, Muara Batu, Dewantara, dan Langkahan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara, Erwandi, menyebut rehabilitasi sawah itu menjadi bagian dari pemulihan ekonomi masyarakat dan upaya menjaga ketahanan pangan. Pernyataan ini penting karena Aceh Utara dikenal sebagai salah satu daerah pertanian yang memiliki basis sawah luas. Ketika sawah rusak, yang terganggu bukan hanya petani, melainkan juga pasokan pangan dan perputaran ekonomi desa.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara, banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025 mengakibatkan 18.316 hektare sawah terdampak, atau sekitar 46 persen dari total luas baku sawah 39.762 hektare. Rinciannya, 4.679 hektare rusak parah, 6.447 hektare rusak sedang, dan 7.189 hektare rusak ringan.
Petani Menunggu Air Mengalir Lagi ke Petak Sawah
Saluran irigasi menjadi urat utama pertanian padi. Saat saluran tertutup lumpur, petani tidak dapat memulai masa tanam meski benih tersedia. Lahan yang terlihat lapang pun belum tentu siap ditanami jika air tidak dapat masuk dan keluar dengan lancar.
Di Muara Batu, banyak petani tidak menggarap sawah selama hampir enam bulan karena saluran irigasi tertutup lumpur tebal. Kondisi ini membuat proses pembersihan saluran menjadi pekerjaan mendesak sebelum petani bisa kembali menanam.
Dari Saluran Induk ke Saluran Distribusi
Pembersihan saluran induk menggunakan excavator menjadi langkah awal untuk membuka jalur air besar. Setelah itu, saluran distribusi yang lebih kecil perlu ditangani agar air benar benar sampai ke petak sawah milik warga. Di sinilah petani lokal mengambil peran langsung.
Model pengerjaan seperti ini lebih sesuai dengan kondisi lapangan karena tidak semua saluran bisa dijangkau alat berat. Sebagian jalur kecil berada di antara petak sawah, dekat pematang, atau di area yang membutuhkan pekerjaan manual. Petani yang terbiasa bekerja di lahan itu dapat bergerak lebih cepat karena mengenal medan.
Pekerjaan per meter mungkin terlihat sederhana, tetapi di lapangan setiap meter saluran menentukan aliran air berikutnya. Jika satu bagian tertutup, air bisa tertahan dan petak sawah lain tetap tidak terairi. Karena itu, pembersihan harus dilakukan rapi, bertahap, dan tidak hanya mengejar panjang pekerjaan.
Program Pemulihan Membutuhkan Kelanjutan Tahap Berikutnya
Pemulihan sawah di Aceh Utara masih membutuhkan waktu. Luas lahan yang rusak jauh lebih besar dibanding pekerjaan tahap awal. Karena itu, pemerintah daerah berharap program lanjutan dapat terus dilakukan agar petani di kecamatan lain juga mendapat kesempatan serupa.
Erwandi menyebut program tahap pertama pembersihan lumpur dilakukan di Kecamatan Sawang, Muara Batu, Dewantara, dan Langkahan. Ia berharap pemerintah pusat melanjutkan program tahap kedua karena luas kerusakan sawah akibat banjir masih sangat besar.
Target Tanam Gadu Jadi Pekerjaan Besar
Pemkab Aceh Utara menargetkan luas tanam padi musim gadu 2026 seluas 30.000 hektare. Target ini juga mencakup sawah masyarakat yang terdampak bencana akhir November 2025, dengan catatan rehabilitasi dapat dipercepat agar lahan siap ditanami.
Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara, Faisal Mulyawan, menyebut pencapaian target tanam tidak hanya bergantung pada rehabilitasi sawah rusak, tetapi juga percepatan tanam yang didukung penyuluh di seluruh kecamatan. Namun, target tersebut masih bisa berkurang jika ketersediaan air terganggu karena irigasi juga rusak akibat banjir.
Artinya, membersihkan lumpur hanyalah satu bagian dari pekerjaan besar. Setelah saluran terbuka, petani masih perlu memastikan air tersedia, benih cukup, alat pertanian siap, dan lahan benar benar layak tanam. Tanpa irigasi yang berfungsi, target luas tanam sulit tercapai secara penuh.
Perekonomian Desa Ikut Bergantung Pada Sawah yang Pulih
Bagi masyarakat pertanian, sawah bukan hanya tempat produksi. Di sekitar aktivitas sawah ada buruh tani, pemilik mesin, pedagang pupuk, penjual benih, penggilingan padi, warung kecil, dan jasa angkut. Ketika sawah berhenti, banyak mata pencaharian ikut tersendat.
Pelibatan petani lokal dalam pembersihan saluran memberi dua keuntungan sekaligus. Pertama, sawah lebih cepat disiapkan. Kedua, petani memperoleh pemasukan selama menunggu masa tanam. Upah Rp 10.000 per meter memang tidak menggantikan seluruh kerugian akibat banjir, tetapi dapat menjadi bantuan langsung yang terasa di tingkat keluarga.
Kerugian Petani Tidak Kecil
Kerusakan sawah akibat banjir di Aceh Utara tercatat sangat besar. Dalam laporan terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara, Erwandi, menyebut total kerugian petani akibat bencana tersebut diperkirakan mencapai Rp 1,6 triliun. Data itu disampaikan seiring catatan bahwa 18.316 hektare sawah terdampak dari total luas baku sawah 39.762 hektare.
Angka kerugian tersebut memberi gambaran betapa berat beban yang ditanggung petani. Sebagian kehilangan tanaman yang sudah tumbuh, sebagian lain kehilangan kesempatan tanam, sementara biaya produksi sebelumnya mungkin belum kembali. Dalam situasi seperti ini, pekerjaan pembersihan dengan upah per meter menjadi salah satu cara agar petani tidak hanya menunggu bantuan, tetapi bisa langsung bergerak.
Aceh Utara Perlu Pemulihan Sawah yang Merata
Tahap awal pembersihan di Muara Batu memberi sinyal bahwa pemulihan lahan dapat dijalankan dengan kolaborasi pemerintah, aparat, kampus, dan warga. Namun, wilayah rusak masih luas. Banyak petani di kecamatan lain menunggu giliran agar sawah mereka juga dapat dibersihkan dan kembali produktif.
Kementerian Pertanian menyebut seluruh data sektor pertanian yang rusak telah masuk dalam rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, dengan pendanaan dari APBN melalui kementerian terkait. Pemerintah daerah juga terus berupaya agar sawah masyarakat terdampak dapat direhabilitasi secara menyeluruh.
Harapan Petani Ada di Lahan yang Kembali Siap Tanam
Petani di Aceh Utara tidak hanya membutuhkan bantuan sesaat. Mereka membutuhkan saluran air yang lancar, sawah yang bersih, benih yang tersedia, dan jadwal tanam yang tidak tertunda terlalu lama. Pembersihan lumpur dengan upah Rp 10.000 per meter menjadi potret kecil dari pekerjaan besar yang sedang berlangsung.
Di lapangan, setiap petani yang mengangkat lumpur dari saluran bukan hanya mengejar upah harian. Mereka sedang membuka jalan agar air kembali masuk ke sawah. Mereka sedang menyiapkan petak tanah yang selama berbulan bulan tertutup material banjir.
“Pemulihan sawah di Aceh Utara tidak cukup dilihat dari alat berat yang bekerja. Yang paling penting adalah petani bisa kembali berdiri di lahannya sendiri, menanam padi lagi, dan mendapat penghasilan dari tanah yang selama ini menjadi pegangan hidup keluarga.”






