12 Jam Sebelum Kemerdekaan RI, Momen Penting Menjelang Proklamasi

Sejarah88 Views

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 tidak lahir melalui persiapan panjang yang tenang pada malam sebelumnya. Sekitar 12 jam sebelum Soekarno berdiri di depan kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, para tokoh pergerakan masih berpindah tempat, berunding, berhadapan dengan pejabat militer Jepang, menyusun kalimat Proklamasi, menentukan siapa yang menandatangani naskah, hingga menyiapkan perlengkapan upacara secara sederhana.

Jika pembacaan Proklamasi ditempatkan sekitar pukul 10.00 pada 17 Agustus 1945, maka rentang 12 jam sebelumnya membawa kita ke sekitar pukul 22.00 pada 16 Agustus. Pada waktu tersebut, Soekarno dan Mohammad Hatta masih dalam perjalanan kembali dari Rengasdengklok menuju Jakarta setelah ketegangan panjang antara kelompok pemuda dan para pemimpin nasional.

Catatan Sekretariat Negara menyebut rombongan Soekarno dan Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Dari sinilah rangkaian peristiwa berlangsung cepat. Hanya dalam hitungan jam, sebuah konsep tulisan tangan berubah menjadi pernyataan resmi kemerdekaan sebuah bangsa.

Sekitar Pukul 22.00, Perjalanan dari Rengasdengklok Belum Selesai

Malam 16 Agustus 1945 menjadi bagian yang sangat menentukan. Sebelumnya, Soekarno dan Hatta telah dibawa para pemuda ke Rengasdengklok sejak pukul 04.00. Kelompok pemuda menginginkan kemerdekaan diumumkan secepat mungkin tanpa bergantung pada lembaga yang dibentuk Jepang.

Di Rengasdengklok, tekanan terhadap Soekarno dan Hatta terus berlangsung. Namun kedua tokoh tersebut tidak serta merta mengikuti tuntutan pemuda. Soekarno memiliki pertimbangan mengenai waktu pelaksanaan, sementara Hatta juga memperhitungkan langkah politik yang harus diambil agar pernyataan kemerdekaan tidak berakhir dalam kekacauan.

Keadaan mulai berubah ketika Ahmad Soebardjo datang ke Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ia memberikan jaminan bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945, paling lambat pukul 12.00. Jaminan tersebut akhirnya membuka jalan bagi Soekarno dan Hatta untuk kembali ke Jakarta.

Perjalanan kembali memakan waktu cukup panjang. Menjelang pukul 22.00, rombongan masih berada dalam perjalanan menuju ibu kota. Tidak ada upacara besar yang menunggu mereka. Bahkan naskah Proklamasi yang dikenal masyarakat Indonesia saat ini pada saat itu belum memiliki bentuk akhirnya.

“Menurut penulis, bagian paling menarik dari malam 16 Agustus adalah kenyataan bahwa Indonesia tinggal beberapa jam menuju kemerdekaan, tetapi kalimat resmi untuk menyatakannya bahkan belum selesai disusun.”

Pukul 23.00, Soekarno dan Hatta Akhirnya Tiba di Jakarta

Sekitar pukul 23.00, rombongan Soekarno dan Hatta tiba kembali di Jakarta. Fatmawati dan Guntur terlebih dahulu diturunkan di kediaman Soekarno. Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol Nomor 1.

Rumah Maeda dipilih karena dianggap memberikan ruang yang relatif aman bagi para tokoh Indonesia untuk melakukan pembicaraan. Maeda sebelumnya telah memberikan jaminan keselamatan selama mereka berada di kediamannya.

Namun Soekarno dan Hatta belum langsung duduk menyusun teks Proklamasi. Ada satu persoalan besar yang masih ingin dipastikan, yaitu sikap resmi pemerintahan militer Jepang setelah negeri itu menyatakan menyerah kepada Sekutu.

Keputusan Jepang menyerah telah mengubah keadaan secara mendasar. Di satu sisi terdapat kesempatan bagi Indonesia untuk menyatakan kemerdekaan. Di sisi lain, tentara Jepang masih memiliki senjata, pasukan, serta struktur pemerintahan yang beroperasi di berbagai wilayah.

Karena itu, malam tersebut belum bisa dianggap aman bagi para pemimpin Indonesia.

Menjelang Tengah Malam, Pertemuan dengan Nishimura Mengubah Sikap

Dari rumah Maeda, Soekarno dan Hatta kemudian menemui Mayor Jenderal Nishimura, pejabat yang menangani pemerintahan umum Jepang. Mereka ingin mengetahui apakah pihak Jepang akan memberikan ruang bagi pelaksanaan kemerdekaan Indonesia.

Jawaban yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan.

Nishimura menjelaskan bahwa setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, pasukan Jepang harus menjaga keadaan sebagaimana adanya. Mereka tidak diperbolehkan membuat perubahan politik besar sebelum Sekutu mengambil alih.

Sikap tersebut membuat Soekarno dan Hatta semakin memahami bahwa kemerdekaan tidak dapat lagi ditempatkan sebagai keputusan yang menunggu persetujuan Jepang. Setelah pertemuan itu, keduanya kembali ke rumah Maeda dan mulai memusatkan perhatian pada perumusan Proklamasi oleh bangsa Indonesia sendiri.

Peristiwa tersebut juga menjelaskan mengapa proses penyusunan naskah berlangsung sangat cepat. Waktu semakin sempit, sementara keputusan besar harus dibuat sebelum pagi.

Dini Hari 17 Agustus, Tiga Tokoh Menyusun Kalimat Proklamasi

Di ruang makan rumah Laksamana Maeda, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo mulai menyusun teks yang akan diumumkan kepada rakyat.

Soekarno bertugas menuliskan konsep dengan tangan. Hatta dan Soebardjo memberikan pemikiran secara lisan. Beberapa tokoh lain berada di sekitar tempat tersebut, termasuk Sukarni, Sudiro dan B.M. Diah. Sementara Maeda mengundurkan diri ke lantai atas ketika penyusunan berlangsung.

Kalimat pertama yang menyatakan kemerdekaan Indonesia berkaitan dengan gagasan yang disampaikan Ahmad Soebardjo. Mohammad Hatta kemudian memberi perhatian pada bagian mengenai pemindahan kekuasaan.

Hatta menilai pernyataan kemerdekaan saja belum cukup. Setelah sebuah bangsa mengatakan dirinya merdeka, harus terdapat penegasan mengenai perubahan kekuasaan yang mengikuti pernyataan tersebut.

Dari pembicaraan itulah muncul dua bagian utama teks Proklamasi. Isinya sangat singkat jika dibandingkan dengan besarnya peristiwa yang sedang dipersiapkan.

Tidak ada dokumen berpuluh halaman. Tidak ada uraian panjang mengenai pemerintahan atau bentuk negara. Para penyusun memilih pernyataan yang ringkas dan tegas.

Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat konsep tulisan tangan Soekarno memperlihatkan sejumlah koreksi. Beberapa kata diubah sebelum memperoleh bentuk akhirnya. Naskah tulisan tangan tersebut kemudian menjadi salah satu sumber primer penting mengenai proses kelahiran Proklamasi.

Pukul 04.00, Konsep Proklamasi Dibawa ke Hadapan Para Tokoh

Sekitar pukul 04.00 pada 17 Agustus 1945, Soekarno membawa konsep yang telah disusun ke hadapan tokoh yang berkumpul di rumah Maeda.

Soekarno membacakan rancangan tersebut dan meminta persetujuan. Namun persoalan berikutnya segera muncul. Siapa yang akan menandatangani teks Proklamasi?

Soekarno sempat mengusulkan agar tokoh yang hadir ikut menandatangani sebagai wakil bangsa Indonesia. Mohammad Hatta mendukung gagasan tersebut dengan merujuk pada pola penandatanganan Declaration of Independence Amerika Serikat.

Kelompok pemuda memiliki pandangan lain. Mereka keberatan apabila terlalu banyak tokoh yang dianggap memiliki hubungan dekat dengan struktur bentukan Jepang ikut membubuhkan tanda tangan.

Di tengah perdebatan tersebut, Sukarni memberikan usulan yang akhirnya diterima. Menurutnya, cukup Soekarno dan Mohammad Hatta yang menandatangani Proklamasi atas nama bangsa Indonesia.

Keputusan itu menghasilkan bentuk yang sangat dikenal hingga sekarang. Di bagian akhir naskah tercantum kalimat “Atas nama bangsa Indonesia” yang diikuti nama Soekarno dan Hatta.

Sayuti Melik Mengetik Naskah dan Melakukan Sejumlah Perubahan

Setelah konsep disetujui, Sayuti Melik memperoleh tugas mengetik naskah tersebut. Proses ini bukan sekadar memindahkan tulisan tangan ke mesin ketik karena terdapat beberapa perubahan dari konsep awal.

ANRI mencatat bahwa naskah ketikan menggunakan rumusan “atas nama bangsa Indonesia” sebagai pengganti “wakil2 bangsa Indonesia”. Penulisan tanggal juga dibuat lebih lengkap. Dokumen ketikan inilah yang kemudian ditandatangani Soekarno dan Mohammad Hatta.

Pada waktu yang hampir bersamaan, sejumlah tokoh sempat mengambil makanan yang telah tersedia. Mereka berada dalam bulan Ramadan dan waktu sahur hampir berakhir. Catatan yang dimuat Sekretariat Negara menggambarkan bagaimana pembicaraan politik yang menentukan tersebut berlangsung beriringan dengan kebutuhan sederhana setelah perjalanan panjang dari Rengasdengklok.

“Bagi penulis, suasana dini hari tersebut menunjukkan betapa sederhana fasilitas yang digunakan untuk sebuah keputusan yang begitu besar. Sebuah meja makan, secarik kertas, mesin ketik dan beberapa orang menjadi bagian dari kelahiran dokumen terpenting dalam sejarah Indonesia.”

Pukul 05.00, Lokasi Proklamasi Diputuskan di Pegangsaan Timur

Setelah naskah selesai, persoalan berikutnya adalah menentukan lokasi pembacaan.

Sukarni menyampaikan bahwa masyarakat Jakarta dan sekitarnya sebelumnya telah diarahkan menuju Lapangan Ikada. Tempat tersebut mampu menampung massa dalam jumlah besar. Akan tetapi, Soekarno tidak menyetujui pilihan itu.

Ia mempertimbangkan kemungkinan bentrokan apabila massa berkumpul dalam jumlah besar di lapangan umum yang berada dalam pengawasan militer Jepang. Akhirnya, kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 dipilih.

Pukul 10.00 ditetapkan sebagai waktu pelaksanaan.

Sekitar pukul 05.00, para pemimpin dan pemuda mulai meninggalkan rumah Maeda. Hatta kemudian meminta orang orang yang bekerja di bidang pers dan kantor berita untuk memperbanyak serta menyebarkan berita Proklamasi.

Dalam beberapa jam berikutnya, perhatian beralih dari penyusunan dokumen menuju persiapan acara.

Pagi 17 Agustus, Halaman Rumah Soekarno Mulai Dipersiapkan

Persiapan Proklamasi jauh dari kemegahan sebuah upacara kenegaraan yang dikenal saat ini. Tidak tersedia panggung besar atau perlengkapan seremonial lengkap.

Wakil Walikota Soewirjo meminta Wilopo mempersiapkan mikrofon dan pengeras suara. Sudiro meminta S. Suhud menyiapkan tiang bendera.

Dalam keadaan yang serba terburu buru, Suhud mencari bambu di belakang rumah. Bambu tersebut dibersihkan, diberi tali, kemudian dipasang beberapa langkah dari teras. Padahal menurut catatan Sekretariat Negara, terdapat tiang besi di sekitar rumah yang saat itu tidak terpikir untuk digunakan.

Bendera Merah Putih yang telah dijahit Fatmawati juga disiapkan. BPIP mencatat Bendera Pusaka tersebut dijahit oleh Fatmawati dan kemudian dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.

Berita mengenai rencana Proklamasi mulai menyebar. Pemuda dan masyarakat berdatangan menuju kediaman Soekarno.

Tidak ada undangan resmi untuk seluruh orang yang hadir. Informasi bergerak melalui jaringan aktivis, pemuda, wartawan dan masyarakat Jakarta.

Menjelang Pukul 10.00, Soekarno Masih Beristirahat karena Sakit

Setelah melalui perjalanan ke Rengasdengklok dan pertemuan sepanjang malam, kondisi fisik Soekarno tidak sepenuhnya sehat.

Catatan Sekretariat Negara menyebut Soekarno mengalami panas dingin pada malam sebelumnya. Ia baru sempat tidur setelah proses penyusunan teks selesai. Sementara itu, orang orang sudah berkumpul di halaman rumahnya sejak pagi.

Ketegangan meningkat ketika waktu pelaksanaan semakin dekat.

Sebagian pemuda mendesak agar Proklamasi segera dibacakan. Namun Soekarno menolak memulai sebelum Mohammad Hatta hadir.

Sekitar lima menit sebelum acara, Hatta datang dengan pakaian berwarna putih. Ia langsung menuju kamar Soekarno. Setelah mengetahui Hatta telah tiba, Soekarno bangun dan mengenakan pakaian putih.

Keduanya kemudian berjalan menuju tempat pelaksanaan.

Tidak ada barisan pejabat negara karena Republik Indonesia bahkan baru akan dinyatakan berdiri. Tidak ada tata acara rumit. Upacara diselenggarakan dengan perlengkapan seadanya di halaman sebuah rumah.

Pukul 10.00, Kalimat yang Disusun Beberapa Jam Sebelumnya Dibacakan

Latief Hendraningrat memberi aba aba kepada para pemuda yang sudah menunggu. Soekarno dan Mohammad Hatta kemudian bergerak mendekati mikrofon.

Soekarno terlebih dahulu menyampaikan pidato singkat. Setelah itu, teks yang beberapa jam sebelumnya masih berupa tulisan tangan di rumah Maeda dibacakan di hadapan masyarakat.

Pernyataan tersebut menegaskan kemerdekaan Indonesia serta menyebut bahwa urusan mengenai pemindahan kekuasaan akan diselenggarakan secara saksama dalam waktu sesingkat singkatnya. Naskah ditandatangani Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Sesudah pembacaan, acara dilanjutkan dengan pengibaran Merah Putih. S. Suhud membawa bendera dan membantu mengikatkannya pada tali bersama Latief Hendraningrat. Bendera kemudian dinaikkan perlahan.

Tidak ada kelompok paduan suara khusus yang dipersiapkan. Ketika Merah Putih bergerak naik, orang orang yang hadir secara spontan menyanyikan Indonesia Raya. Setelah pengibaran selesai, Soewirjo dan dr. Muwardi memberikan sambutan.

Beberapa jam sebelumnya, Indonesia masih berada di antara perdebatan Rengasdengklok, sikap militer Jepang, secarik konsep tulisan tangan dan pembicaraan dini hari. Pada pagi 17 Agustus 1945, teks ketikan yang telah ditandatangani Soekarno dan Hatta akhirnya terdengar di halaman Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, disusul naiknya Merah Putih di hadapan masyarakat yang berkumpul sejak pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *